Meminta Maaf itu Berat?

Meminta maaf ternyata hanya sangat sulit dipraktekan. Meskipun terkadang kita memaksa orang lain untuk melakukan itu. Tapi, ternyata saat kita yang terjebak dalam situasi tersebut dan kita harus meminta maaf, rasanya sangat berat. Apalagi, saat kita sebagai orang tua harus meminta maaf kepada anak kita.

Hal pertama yang selalu mendengung – dengung dalam otak kita biasanya sebuah pernyataan. ‘’Aku kan nggak salah, dia yang salah.’’ Jika sebagai suami dengan istri ‘’Aku kan suami, kepala keluarga yang harus minta maaf dia, istri harus patuh sama suami,’’ dan banyak lagi. Intinya ketika terjadi suatu masalah atau konflik tentunya semua pihak akan merasa benar. Dan saat itulah akan terjadi deadlock, yang berakibat konflik berkepanjangan dan tumbuhnya dendam dalam batin Anda.

Meminta Maaf itu Berat, karena Sombong

Merasa benar sendiri, paling pintar dan paling mulia adalah salah satu penyebab munculnya kesombongan. Ketika sombong telah bersarang dalam batin maka akan mengakibatkan munculnya kebenaran tunggal. Padahal kebenaran tunggal itu hanyalah milik Allah Swt.

Selain itu, sifat sombong juga dapat menimbulkan sifat –sifat buruk lainnya. Contohnya, adalah buruk sangka dan mudah marah. Kita akan menganggap orang – orang yang berseberangan dengan pendapat kita seolah – olah berencana menjatuhkan kita. Pikiran kita berisi prasangka – prasangka buruk terhadap mereka. Sehingga, ketika bertemu dalam sebuah forum- forum akan menghasilkan berdebatan yang panjang.

Sesungguhnya kebenaran tunggal hanyalah milik Allah Swt, manusia adalah tempat salah dan dosa. Alquran, hadis dan Sunnah Nabi adalah pedoman hidup kita sebagai muslim. Dan Allah Swt juga sudah berfirman : ‘’Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.’’ ( Al Isra’ : 37)

Untuk itu, marilah kita selalu bersikap rendah hati, bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan bersegeralah meminta maaf apabila perbuatan kita menimbulkan konflik. Meskipun kita merasa benar dan punya dasar pembenaran. Mungkin saja pendapatkan kita tidak akan sama dengan pendapat muslim lainnya. Selama pendapat itu masih ada dasarnya secara Islam harus kita hormati. Kerukunan, keharmonisan dan persatuan umat Islam sebagai umat terbesar di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sangat diperlukan.

Untuk itu, saudara – saudaraku umat Islam, mari kita bersatu, jangan terpecah belah. Perpecahan diantara umat Muslim justru akan menguntungkan mereka – mereka yang benci terhadap Muslim. Bukankah Rasulullah berpesan dalam riwayat Shahih Bukhari hadits nomor 5768, yang berbunyi : Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu saling menjauhkan, dan yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai salam.” Sufyan menyebutkan, bahwa dia mendengar Zuhri hingga tiga kali.”

Sebuah kisah tauladan yang perlu kita renungkan bersama, riwayat Shahih Bukhari hadits nomor 6373 sebagai berikut :

‘’Abu Bakr dan Umar pernah berdebat hingga Abu Bakr marah kepada Umar. Umar pun berpaling darinya dalam keadaan marah. Lalu Abu Bakr mengejarnya untuk meminta maaf. Namun Umar tidak memberi maaf hingga ia menutup pintu rumahnya dihadapan Abu Bakr. Abu Bakr kemudian menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Darda berkata; pada waktu itu aku berada disamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya temanmu ini telah berbuat baik lebih dahulu.” Abu Darda berkata; maka Umar menyesal atas apa yang telah dia perbuat. Lalu ia datang dan mengucapkan salam serta duduk di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang telah ia perbuat. Abu Darda berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun marah, hingga Abu Bakr berkata; ‘Demi Allah ya Rasulullah, Akulah yang telah berbuat zhalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Bukankah kalian pernah meninggalkan sahabatku untukku, Bukankah kalian pernah meninggalkan sahabatku untukku?. Sesungguhnya aku pernah berkata; Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan kepada kalian semua, lalu kalian katakan; ‘Anda telah berdusta, namun Abu Bakr berkata; ‘Anda benar.’ Abu Abdullah berkata; Ghamara artinya; telah berbuat baik lebih dahulu.’’

Kebenaran hanya milik Allah Swt, kami sebagai penulis mungkin juga salah dalam menafsirkan. Untuk itu, sebelumnya kami meminta maaf kepada Pembaca sekalian.

Allahu a’lam.

 


No Replies to "Meminta Maaf itu Berat?"


    Got something to say?

    Some html is OK